Ketahanan Budaya Indonesia
Ketahanan Budaya Ethan
Pada
tanggal 30 april yang lalu, aku dan teman-teman datang ke sebuah tempat yang
cukup terkenal dan sedang hits saat ini yaitu Jalan Asia Afrika, siapa yang
tidak mengenal jalan tersebut sekarang?
Disana
kami datang ke sebuah tempat bangunan kuno yaitu De vries, bangunan ini cukup
kuno dibandingkan dengan bangunan yang lainnya di Asia Afrika selain Gedung
Merdeka. Kami datang sengaja di sore hari ditengah keadaan lalu lintas yang
sedang tersendak. Memang awalnya aku tidak tahu ingin melakukan apa disana,
namun setelah guruku mengatakan kami akan mendengar ceramah dari narasumber
disana, juga melihat-lihat mengenai sejarah kota Bandung. Memang data disana
mengenai Bandung lengkap sekali mulai dari sejarah lini masa kota Bandung dari
masa 1900-an hingga tahun-tahun sekarang. Selain itu disana kita juga dapat
melihat foto-foto yang dijepret pada masa itu, seperti penjara Banceuy, gedung
sate, dan para demonstan yang sedang berdemo di Bandung. Tempatnya cukup besar
dibandingkan dengan kelas kita, sekitar 3 kalinya kelas di sekolah kami.
Ruangan tersebut dipenuhi dengan koleksi data sejarah Bandung, tempat untuk
narasumber hanya seperempat dari ruangan tersebut.
Kami
mendengar 2 jam, ceramah dari para narasumber yang datang pada saat itu. Memang
cukup membosankan mendengarkan ocehan pengetahuan dengan kata-kata bintang lima
ditambah lagi dengan speaker yang sangat jelek kualitasnya. Ketahanan Budaya itulah judulnya, Ketahanan budaya.
Data
ini cukup berhubungan dengan akulturasi budaya, namun disini kita membicarakan
bagaimana agat budaya tersebut tahan dengan jajahan dari budaya dari luat
negeri. Bandung adalah kota yang berbudaya, bukan kota Kuliner atau sebagainya.
Kota Berbudaya adalah kota yang mempunyai banyak museum, karena dengan adanya
museum kita dapat mengajarkan kebisaan masyarakat dulu ke generasi muda jaman
sekarang, yang terlalu banyak mengikuti budaya luar. Prinsip ketahanan budaya
itu ada 4, yaitu Cerdas, berani, jujur, dan berkonstribusi agar budayanya tidak
hilang dari dunia. Yang kurang di Bandung adalah museumnya, factor yang
membuatnya kurang adalah para pemimpinnya yang kurang berbudaya, sehingga dapat hilang dalam
hitungan bulan. Generasi muda sekarang banyak yang mengikuti budaya luar,
contohnya budaya Tiongkok dan Korea.
Tiongkok
budaya sangat kuat, sehingga di setiap Negara pasti mempunyai daereah kawasan
pecinan atau yang biasa dikenal dengan Chinatown.
Mereka dapat membawa budayanya ke seluruh dunia, karena dasar budaya mereka itu
sangat kuat dibandingkan dengan Negara lain di dunia ini, salah satunya yang
membuat kuat adalah terjadinya banyak perubahan budaya. Dibandingkan dengan
Indonesia, ketahanan budaya kita sangat rapuh, menurut Handi dan Acil Bimo
masyarakat kota kita sangat merendahkan budaya yang ada di kota mereka, sebagai
contoh zaman dulu bioskop dengan konsep misbar masih banyak ditemukan di
Bandung maupun di Indonesia, karena perusahaan Amerika membangun Jaya Multiplek
di Indonesia atau sekarang dikenal dengan XXI / 21 bioskop tradisional Indonesia
sudah menghilang dari negeri ini, alhasil generasi muda sudah tidak dapat
melihat kebiasaan masyarakat Bandung dulu. Korea, mereka mencoba mempromosikan
budaya mereka menggunakan Internet, sehingga orang lebih banyak tahu dan lebih
cepat tahu karena siapa yang tidak memakai smartphone
di abad 21 ini.
Banyak
WNI diluar negeri, kehilangan keindonesiaannya, kesalahan mereka adalah tidak
membawa budaya Indonesia mereka ke luar negeri sehingga mereka melupakannya dan
orang luar tidak akan tahu mengenai budaya kita. Memang cukup menyedihkan, tapi
banyak juga yang melakukan kejadian tersebut sehingga membuat persepsi orang
Indonesia di mata dunia jelek, karena mereka tidak ingin membawa bendera
Indonesia. Korea dan Tiongkok dapat menang melawan budaya luar, karena mereka
berusaha melawan budaya yang datang di Negara mereka…mereka melawan dengan
memperbanyak dan promosi lewat film dan Internet sehingga budaya yang mereka punya
tidak hilang begitu saja.
Masalah
lain yang dipunyai Indonesia adalah korurpsi yang mempengaruhi budaya asli
Indonesia. Menurut Acil, Indonesia baru 5 tahun merdeka namun mereka sudah
korupsi saja, mulai dari masalah kurs yang tidak stabil. Jepang, mereka
memberlakukan revolusi mental, ”budaya
kami adalah ksatria budaya Jepang”l


Komentar
Posting Komentar